Lukas 23 : 50 – 54
…. dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. (ay. 51)
Dia seorang Yahudi berasal dari kota Arimatea. Seorang kaya, anggota Majelis Besar yang dihormati (Mark 15:43), dia menolak hasil keputusan Majelis Besar atas Yesus. Setelah Yesus wafat, dia berinisiatif untuk membawa tubuh Yesus, membungkus dengan kain kafan, lalu dikubur di makam yang diduga adalah miliknya. Apa yang sesungguhnya memotivasi semua kebaikan Yusuf Arimatea itu? Pertama karena dia adalah murid Yesus, kedua karena ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Hati kita adalah tempat segala macam motivasi tercipta. Itu tidak terbangun begitu saja, ada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Menjadi murid Yesus memberi suatu persepektif berbeda pada Yusuf. Mengenal Yesus dalam relasi guru dan murid tentu membentuk ikatan yang kuat dengan Sang Guru dan ajaran-ajaran-Nya. Semua yang terjadi pada Yesus hingga kematian-Nya tidak akan mengubah ikatan itu dan tidak membuatnya meragukan ajaran gurunya. Yusuf tetap setia dan berpengharapan hanya pada perwujudan Kerajaan Allah. Semua itu menjadi nilai yang membentuk motivasi mulia menunjukkan kecintaan dan rasa hormat dan kesetiaan pada Sang Guru di akhir hidup-Nya. Kita bisa saja beridentitas sebagai orang Kristen, pengikut Kristus. Rajin beribadah, aktif dalam berbagai pelayanan di gereja. Namun bukan identitas religi kita atau tingkat keaktifan pelayanan dan beribadah yang membentuk nilai dan prinsip dalam hidup kita, tetapi ikatan kita dengan Tuhan Yesus dan ajaran-Nya. Seberapa akrab relasi kita dengan Tuhan? seberapa besar kita berpegang teguh dalam iman terhadap ajaran-Nya? Seberapa dalam kita mengakar pada harapan akan realisasi Kerajaan Allah dalam keseharian hidup kita? Semua itu merupakan sumber motivasi terbaik yang menentukan tindakan dan jalan hidup kita.
♪ KJ. 400: 1,3,4
Doa : (Tuhan Yesus tinggallah dan kuasailah hidup kami sepenuhnya agar tidak ada tempat bagi hal-hal buruk dan jahat. Amin)