Yunus 4: 1 – 5
Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?” (ay. 4)
Seorang ayah berteriak marah kepada Tuhan sambil menuding -kan jarinya ke langit : “Tuhan…mengapa Engkau biarkan ini terjadi? Di manakah Engkau yang tega biarkan puteraku meninggal?” Di manaaaa…!!! Lalu terdengar suara TUHAN, menjawab dengan lembut : “Aku berada di tempat yang sama seperti saat Putera-Ku mati bagi dosamu”. Mendengar jawab -an itu, ia tersungkur dalam sujud dan malu sambil berkata: “Ampuni aku, ya Tuhan…” Banyak orang merasa berhak untuk mempertanyakan kehendak Tuhan ketika apa yang terjadi dalam hidupnya di luar nalar dan kemampuanya untuk mengerti. Kisah Yunus adalah salah satu contohnya. Rupanya alasan Yunus lari dari panggilan ke Niniwe dan kemudian ditelan seekor ikan besar adalah ia tidak mau Niniwe diluputkan dari kehancuran. Mengapa ia curiga bahwa Niniwe akan diampuni? Sebab dia sangat kenal TUHAN Allah-Nya, yakni pribadi yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (ay.1,2). Lalu ketika ia akhirnya melihat pengampunan yang Tuhan berikan kepada Niniwe, Yunus sangat kecewa dan marah. Bahkan saking marah -nya, ia merasa tidak perlu hidup lagi (ay.3). Bayangkan, kemarahan seperti apa di diri Yunus!! Apakah reaksi Tuhan? Tuhan balik mempertanyakan alasan Yunus, yakni “layakkah engkau marah?” Yunus marah karena kasih karunia Tuhan terlalu besar bagi Niniwe. Hari ini kita belajar hal penting, yakni: kita tidak harus marah, kecewa dan sakit hati, jika perkara baik dilakukan Tuhan bagi orang lain. Justru sebaliknya kita harus bersyukur untuk hal itu. Mengapa? Karena Tuhan berhak melakukan apa saja dalam hidup kita termasuk bagi orang lain. Kendatipun terkesan tidak adil, kita tidak berhak mempertanyakannya termasuk marah kepada Tuhan. Apa yang Tuhan buat pasti tidak pernah keliru, Ia sangat tahu segala rencana agung-Nya itu, sebagaimana Dia tahu rencana Nya bagi Niniwe yang penuh dosa itu.
♪ GB. 225 : 1
Doa : (Ampuni kami yang mempertanyakan kehendak dan keputusan-MU. Amin)