Imamat 3 : 10 – 17
Imam harus membakarnya di atas mezbah sebagai santapan….. (ay. 11)
Dalam ayat 11 dikatakan “Imam harus membakarnya di atas mezbah sebagai santapan …”. Kata “santapan” adalah terjemahan dari kata Ibrani “lehem”. Lehem biasanya di terjemahkan dengan “roti” yang juga mempunyai arti yang lebih luas, yaitu “makanan” atau “santapan”. Kata “santapan” ini menunjuk kepada ide kuno bahwa apa yang dipersembah kan di atas mezbah itu menjadi makanan bagi Allah. Namun demikian, penulis kitab Imamat tidak mengartikannya secara harafiah. Dengan memakai kata itu penulis menekankan persahabatan dan hubungan baik antara Tuhan dan orang orang yang beribadah. Apa yang diyakini terwujud melalui persembahan kurban perdamaian itu ialah suatu perjamuan makan bersama dimana Tuhan diyakini hadir di dalamnya. Datang menghadiri undangan si penyembah berarti menunjukkan bahwa tidak ada lagi penghalang atau dosa yang membuat mereka saling menjauhi satu terhadap yang lain. Hubungan mereka, bahkan dengan Tuhan pun, sudah dipulihkan. Perjamuan bersama adalah tanda sukacita, sehingga pada umumnya dirindukan dan dihadiri jika diundang. Hubungan erat antara dedikasi, peringatan, dan sukacita dalam suatu perjamuan (baik pada saat makan bersama maupun Perjamuan Kudus) berlaku juga bagi kita sebagai orang Kristen. Menurut Lukas (penulis Kisah Para Rasul), orang-orang Kristen mula-mula, “memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama dengan gembira serta tulus hati, sambil memuji Allah” (Kis. 2:46-47). Jika kita setia kepada Allah yang memberkati lewat pengurbanan dan kebangkitan Yesus Kristus, maka kasih-Nya semakain nyata untuk dialami setiap orang percaya dalam hidup ini. Mari menyerahkan diri kita secara total kepada-Nya, agar mendapatkan sukacita dan kebahagiaan yang lebih dalam bersama-Nya.
♪ KJ. 36 : 3,4
Doa : (Kami bersyukur pada-Mu Bapa, atas kasih-Mu lewat pengurbanan Yesus. Amin)