HIDUP DALAM PERDAMAIAN

Imamat 6 : 1 – 7
Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah. (ay.7)

Hidup damai dengan TUHAN dan sesama adalah impian atau dambaan semua orang tanpa terkecuali. Ketika seseorang melakukan kesalahan, maka damai sejahterapun akan lenyap dalam kehidupannya. Supaya damai sejahtera itu kembali hadir, maka orang itu harus memohon pengampunan dari TUHAN Allah, dengan kesiapan untuk menanggung konsekuensi dari perbuatannya. Ketika seseorang berbuat salah, tindakan paling mudah adalah memohon ampun kepada TUHAN, lalu menganggap masalahnya selesai. Ternyata hal tersebut belum optimal, karena permohonan ampun perlu dibarengi dengan sikap dan tindakan yang menyatakan bahwa orang tersebut sungguh sungguh menyadari kesalahan itu dan siap menanggung konsekuensinya. Hal tersebut harus nampak dari perbuatan yang menunjukkan kesediaan untuk bertanggungjawab secara pribadi maupun sosial terhadap Tuhan dan sesama yang dirugikan. Jika ada barang yang menjadi objek perselisihan, Tuhan menuntut bukan saja barang itu dikembalikan, melainkan juga ada bukti penyesalan berupa pembayaran denda (ayat 5). Hubungan dengan TUHAN tidaklah terlepas dari hubungan kita dengan sesama. Saat dosa hadir dan membuat hubungan tersebut menjadi rusak, Kristus Yesus berkenan menjadi pendamai kita. Melalui penebusan-Nya di atas kayu salib, hubungan kita dengan Allah Bapa dan sesama menjadi pulih, dan damai sejahtera Allah-pun kembali hadir. Sebagai makhluk sosial, kualitas hubungan dengan TUHAN sangat mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Kitab Imamat yang berbicara tentang kekudusan hidup mengingatkan bahwa Tuhan memanggil kita untuk hidup berbeda dari orang dunia. Kita menjadi saksi-saksi-Nya yang Ia tempatkan di tengah tengah dunia ini. Kesaksian hidup sebagai umat kesayangan Allah baru nampak, hanya apabila kita berada dalam damai sejahtera Allah dengan sesama. Selamat berdamai sejahtera!

♪ GB. 126 : 2
Doa: (Tolong ajar kami, ya TUHAN, untuk mau hidup damai dengan Allah Bapa, diri sendiri, dan sesama. Amin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *