KARUNIA KHAS

1 Korintus 7 : 8 – 9
Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu. (ay. 8)

Kawin, tidak ya? Umumnya nasihat yang disampaikan kepada yang masih lajang adalah supaya segera kawin, maksudnya berumah tangga. Tidak kawin dianggap pilihan hidup yang gak normal. Normalnya, setiap orang harus kawin. Begitu anggapannya. Lalu bagaimana dengan para pastor atau Imam Katolik? Orang yang tidak paham akan berkomentar: “itu gak wajar, karena “melawan” perintah Kejadian 1:24.” Bagaimana dengan Paulus, yang merasa sangat gembira kalau ada orang yang memilih jalan hidup tidak kawin seperti dirinya. Tentunya, pilihan hidup yang dijalani oleh mereka pastor/imam Katolik adalah hidup berkaul (janji) untuk selibat. Selibat tidak sama dengan tidak kawin. Ada orang yang tidak kawin, tetapi tidak selibat. Selibat adalah suatu cara untuk mencinta meski dirinya sulit untuk menjelaskannya tetapi konkrit dalam tindak kehadiran di antara sesama. Selibat adalah ungkapan men cinta yang terbuka, yang dihayati dalam persahabatan dengan semua orang, bebas mengadakan relasi dengan mem persembahkan dan mengurbankan sesuatu yang bermakna bagi banyak orang di sekitarya. Pada satu sisi, kawin atau tidak kawin merupakan pilihan bebas setiap pribadi namun pada sisi lain, menurut Paulus, ada intervensi Allah. Dengan mengatakan bahwa “tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang se orang karunia ini, yang lain karunia itu” (ay.7), Paulus me nunjukkan penilaian positif terhadap intervensi Allah yang mengantar setiap orang pada kebebasan, terlepas dari apapun pilihan jalan hidupnya. Hidup seperti Paulus dalam kebebasan dari hawa nafsu adalah karunia Allah tetapi pilihan untuk kawin/berumah tangga itu juga suatu karunia Allah. Keduanya itu adalah pilihan hidup. Kawin atau tidak kawin (berumah tangga) adalah karisma dan menjadi panggilan untuk melaksanakan kehendak Allah.

♪ KJ. 365b : 3,4
Doa : (Ya Roh Kudus, tolonglah kami menyatakan kehendak-Mu dalam hidup kami, baik sebagai pribadi maupun sebagai yang hidup dalam perkawinannya. Amin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *