TURUTI….

Yakobus 4 : 1 – 5
Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? (ay.4b)

Seperti kepada jemaat-jemaat yang menerima Surat Yakobus, kepada kita juga diajukan pertanyaan amat mendasar untuk mengambil keputusan etis: Turuti keinginannya sendiri atau turuti kehendak Allah? Allah menciptakan manusia tidak seperti robot dan dengan remote control. Manusia diciptakan dengan memiliki kehendak bebas sehingga bebas berkeinginan (freedom of desires). Salah satu keinginnya adalah kesenangan duniawi, se perti harta, gengsi, martabat, gelar, dan berbagai kenikmatan sehingga nafsunya terpuaskan. Semua keinginan itu bertujuan untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Ia puas bila keinginan atau kepentingannya diperoleh. Agar keinginannnya terpenuhi, tidak jarang ia akan menempuh upaya-upaya menurut rencana dan perhitungannya sendiri. Tak perduli apakah caranya itu benar atau tidak. Naluri alami memunculkan kebebasan untuk berkeinginan sehingga membuka pintu bagi sang anak manusia untuk memperoleh segala yang bisa mendatangkan kenikmatan bagi dirinya. Kenikmatan dunia berpotensi melahirkan pertikaian dan dendam, seperti rebutan warisan, mengingini atau iri atas milik orang lain dan pada akhirnya membuat orang tanpa disadari telah dikendalikan hawa nafsu. Ia membiarkan dirinya mengingini berbagai macam hal, padahal, keinginan duniawi dapat mengkibatkan bencana bagi orang lain bahkan dirinya sendiri. Tidak demikian halnya dengan mengikuti kehendak Allah. Kehendak Allah tidak sejalan dengan upaya dirinya memperoleh kenikmatan duniawi demi kepentingannya sendiri. Keinginan manusia yang dituruti cenderung membuat manusia bertengkar, terpecah dan saling menyingkirkan oleh karena upaya memenuhi nafsunya. Di sana-sini orang saling berebut, sedangkan menuruti kehendak Allah justru dapat mendekatkan atau menyatukan manusia. Dengan demikian, mengikuti kehendak Allah membuahkan kebahagiaan dalam keluarga maupun dalam perhimpunan-perhimpunan lainnya. Seorang yang mulai menaati diri sendiri demi nafsunya, berarti ia mulai menolak sesama dan Tuhan.

♪ KJ. 282 : 3,4
Doa : (Ya Roh Kudus, tolonglah agar mulai pagi ini hamba-Mu berani untuk lebih menuruti kehendak-Mu. Amin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *