KECONGKAKAN IBADAH

Amos 6 : 10 – 16
Hai kamu, yang bersukacita karena Lodabar, dan yang berkata: “Bukankah kita dengan kekua tan kita merebut Karnaim bagi kita?” (ay. 13)

Kita sering mendengar kesaksian warga gereja bahwa mereka beribadah untuk menyenangkan hati Tuhan. Bahkan pendeta tertentu juga sering berdoa bahwa biarlah ibadah kami menyenangkan hati Tuhan. Ungkapan seperti ini merupakan harapan yang wajar. Bukankah Allah itu penuh kasih dan kita menjadi sahabat yang dipercayai? (Yoh. 13:15). Namun di mata Nabi Amos, ibadah umat sama sekali tidak menyenangkan Tuhan. Ibadah itu hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Penuh kecongkakan dan memamerkan kemewahan. Allah bersumpah, bahwa Ia tidak berkenan kepada ibadah yang demikian. Ia benci terhadap kesombongan pemimpin. Mereka tinggal di istana yang indah. Sementara kaum jelata menderita. Dengan praktek ibadah itu mereka merasa aman dan tenteram, karena telah menyenangkan hati Tuhan. Pasti Tuhan merasa senang karena ibadah yang dilakukan dengan tarian, nyanyian dan pesta anggur. Nabi Amos tidak memuji ibadah yang demikian. Allah tidak merasa disenangkan dengan ibadah seperti itu. Allah bersumpah mendatangkan hukuman. Allah menyerahkan kota dan isinya kepada musuh, Asyur yang menghancur kan Israel. Semuanya akan binasa. Tuhan mendatangkan penyakit sampar. Ayat 9 menjelaskan tentang hukuman yang mengerikan. Rupanya tidak sempat lagi diadakan pemakaman secara wajar tetapi korban sampar dibakar untuk menghindari wabah yang lebih luas. Belajar dari bacaan ini, kita diingatkan bahwa kita beribadah karena Tuhan menjumpai kita. Kita menghadap Tuhan dengan takut dan rendah hati.

♪ GB. 114 : 2
Doa : (Tuhan, ajarlah kami untuk rendah hati dalam beribadah. Amin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *